Penempatan Guru di Pijay Dinilai Amburadur

Header Menu

Penempatan Guru di Pijay Dinilai Amburadur

Fajri M. Kasem
Senin, 19 Juli 2010

Oleh: Fajri M. Kasem

[serambinews.com] – Niat pemerintah untuk memajukan pendidikan di Kabupaten Pidie Jaya sepertinya tidak berjalan mulus. Hasil penelurusan Organisasi Kepemudaan (OKP) Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) Pidie Jaya menyebutkan bahwa penempatan guru pada sejumlah sekolah di kabupaten itu masih amburadul.

Salah satunya di SMK Negeri I Bandar Baru. Di sekolah itu dilaporkan, jumlah guru berstatus PNS dan CPNS formasi 2008 sudah menumpuk hingga 40 orang. Padahal, jumlah ruang belajar siswa hanya enam lokal dengan total murid 132 orang. Akibatnya, ada guru PNS yang hanya kebagian dua jam mengajar selama seminggu alias delapan jam dalam sebulan.

“Kita patut mempertanyakan perkara ini karena selain tidak tepat sasaran, juga banyak guru yang mubazir di sejumlah sekolah,” kata Ketua Umum IPNU Pijay, Fajri M Kasem, Jumat (14/8). Kepsek SMK I Bandar Baru, Drs
. Sulaiman saat dikonfirmasi Serambi mengatakan, jumlah guru PNS hanya delapan orang. Sementara 32 guru lagi merupakan guru CPNS formasi 2008 yang baru saja mendapat SK. Selain itu, juga masih terdapat enam lagi guru berstatus honorer.

Terkait guru yang menumpuk, Sulaiman mengatakan, setengah dari 32 guru CPNS hanya numpang mengajar di SMK Negeri I Bandar Baru, sambil menunggu dibangunnya SMK Negeri I Trienggadeng. Sebenarnya, kata dia, sekolahnya juga belum punya gedung. Selama ini mereka masih menumpang di SMP Ulee Gle sambil menunggu selesaikan pembangunan SMK I Bandar Baru.

“Jumlah guru yang kami usulkan dulu hanya 18 orang. Walau sekarang yang diberikan mencapai 32 orang, tapi tidak semuanya untuk SMK I Bandar Baru. Mereka mengajar di sini sambil menunggu SMK I Trienggadeng selesai dibangun sekitar tahun 2010 nanti,” ujar Sulaiman Terhadap jawaban Kepsek SMK I Bandar Baru itu, Fajri menilai bahwa pemubaziran guru masih tetap terjadi. “Selama SMK Trienggadeng belum selesai dibangun, tetap saja mubazir. Kalau numpang sebentar kenapa hanya ditumpuk di SMK saja. Coba kalau dihitung jumlah murid 132 dengan guru 40 orang, mending belajar privat saja di rumah, tiap guru hanya mengajar untuk tiga atau empat murid. Itu lebih hemat dan praktis,”
ketusnya.

Selain itu, IPNU Pijay juga menemukan penumpukan guru Bahasa Indoensia di SMAN I Bandar Baru serta penempatan guru yang tidak tepat sasaran seperti di SMA 2 Meureudu. Karenanya, pihak terkait terutama Disdik Pijay bisa segera menuntaskan masalah tersebut. “Ini masalah urgen. Kalau tidak mau dikatakan pendidikan di Pijay bobrok, cobalah ditingkatkan lagi kinerja Disdik Pijay. Semoga saja, masalah itu segera selesai,” demikian pungkas Fajri M Kasem.